Matahari baru saja kembali. Membawa pergi kabut dan mimpi-mimpi. Menghadirkan kenyataan sekaligus harapan. Memunculkan pilihan di antara perbedaan.
“Biii !! tas saya mana? Jangan lupa bawain Koran yang tadi pagi !!”
“Iya tuan,”
“Oiya bi, nanti tolong bilang ke nyonya kalo saya ada meeting sampai malam.”
“Baik tuan, permisi”
“Ya sudah, saya berangkat dulu. Maduunnn, siapin mobilnya !!!”
“Baik tuaannnn.”
SEORANG PEMUDA TAMPAN TEWAS TERTABRAK KERETA
Jakarta,- Seorang pemuda yang diketahui bernama Teguh ditemukan terkapar di pinggiran rel kereta api dengan kondisi mengerikan. Di dekat mayat pemuda itu ditemukan tas yang berisi sebuah surat lamaran pekerjaan dan undangan pernikahan dengan nama Alina dan Deni……………
###
“Hei kamu, jangan duduk di situ, nanti kamu ketabrak kereta !!”
“Hei !! Minggir sana, dasar orang gila !!”
“Sana-sana,,huuusshhh huusshh,,duduk-duduk kok di tengah rel”
Kemudian orang yang bertampang lusuh itu mulai beranjak, dengan langkahnya yang gontai, dia berjalan menyusuri rel kereta api, lalu menjauh. Membawa tas yang sepertinya tidak berisi apa-apa. Matanya kosong.
“Kasihan, masih muda kok sudah edan”
“Iya pak, jaman sekarang kayaknya banyak orang gila, mungkin dia stress ditinggal pacarnya”
“Hahaha, makanya bu, kalau punya anak jangan suka dipaksa-paksa, nanti bisa gila kayak yang tadi”
“Hehe, anak jaman sekarang memang susah, gak ngerti saya mereka maunya apa. Gak disekolahin minta sekolah. Tapi setelah disekolahin malah bolos trus tawuran, ckckckck. Padahal saya rela jualan gorengan begini juga karena mereka. Pusing.”
###
Kereta datang dengan suaranya yang gemuruh. Membelah kota. Membelah kampung. Membelah sungai. Di dalamnya berdiri dan berdesakan orang-orang yang mencari jalan menuju kebahagiaan. Berkeringat.
Di bawah sebuah pohon besar di tepian taman, seorang yang bertampang lusuh tadi duduk termangu. Matanya masih kosong, dan tasnya masih terlihat seperti tidak terisi apa-apa. Dahinya seperti menceritakan sebuah kekaburan antara penderitaan dan harapan. Mulutnya tertutup rapat seperti menahan sesuatu yang tak diinginkannya untuk keluar. Orang-orang yang berlalu-lalang menatapinya dengan perasaan risih bercampur iba, namun dia tak peduli.
Lamunannya semakin dalam. Perlahan terbayang olehnya wajah ibunya. Wajah tua dan renta yang terkapar di pinggir jalan, bersimpah darah di antara reruntuhan bangunan kumuh di tepian rel kereta api yang baru saja tergusur. Bayangan itu semakin jelas berputar-putar di depan matanya. Suara-suara teriakan dan tangis pilu membaur menjadi satu. Semakin jelas, hingga membuat tubuhnya bergetar, lalu air mata menetes perlahan membasahi wajahnya yang lusuh itu. Dia membisu. Lalu berjalan, gontai.
“Alina….”
###
Matahari telah lelah dan hendak pulang. Di sela-sela bayangan senja, para pedagang kaki lima masih setia dengan kotak dan keringatnya. Berlalu lalang di antara jalan raya dan rel kereta api. Bayangannya menggambarkan sebuah perjuangan terhadap ketidakadilan. Mereka melangkah, bersama para pengemis, pengamen, yang tua, pemuda, wanita, bahkan anak-anak yang belum mengerti apa arti esok hari.
Tiba-tiba saja,
“Heiii…awaassss !!! Ada keretaaaaa, jangan duduk di situ !!!!”
“Awaaaaassssssss !!!”
“Heeeiiiiiiiiiiiiiiiii…!!!”
“Astaghfirllahhhhh !!!”
###
Sebuah kereta melaju dengan tanpa ampun menerobos senja. Membelah keramaian. Membelah kesunyian. Di dalamnya berdiri dan berdesakan orang-orang yang berjuang menggenggam sebuah kebahagiaan. Berkeringat. Sebagian dari mereka sedang tertidur pulas dan asyik bermimpi. Senja semakin muram di ujung sana. Esok, adalah hari kemerdekaan.
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar