Dibesarkan oleh embun, dituntun oleh angin, ditempa oleh hujan, dikuatkan dengan harapan. Lalu patah kembali menjadi tanah. Tak tersisa, selain tulisan yang akan engkau tinggalkan sebagai nisan. Entah abadi, entah terlupa.
Hatiku selembar daun, Melayang jatuh di rumput. Nanti dulu, Biarkan aku sejenak terbaring di sini. Ada yang masih ingin ku pandang, yang selama ini senantiasa luput. Sesaat adalah abadi, Sebelum kau sapu tamanmu setiap pagi.
Rabu, 28 Januari 2015
Senin, 19 Januari 2015
Tetap
Pada akhirnya hanya harapan yang akan tetap hidup,
di antara debu dan dedaunan,
di antara jarimu yang pernah aku genggam.
Dunia berjalan tepat pada waktunya,
Langkahku menjejak tepat pada bayangnya,
Hingga pada akhirnya hanya harapan yang akan tetap hidup,
di antara debu dan dedaunan,
di antara keningmu yang pernah aku teduhkan.
di antara debu dan dedaunan,
di antara jarimu yang pernah aku genggam.
Dunia berjalan tepat pada waktunya,
Langkahku menjejak tepat pada bayangnya,
Hingga pada akhirnya hanya harapan yang akan tetap hidup,
di antara debu dan dedaunan,
di antara keningmu yang pernah aku teduhkan.
Sabtu, 17 Januari 2015
Awakening 3
Kita semua telah kehilangan arah bukan? Kita tak mampu lagi membedakan letak matahari, dan dimana senja akan tenggelam.
Kamis, 15 Januari 2015
Awakening 2
Waktu sangatlah kejam Aliffia. Dia selalu mengingat apa yang telah aku lupakan, tanpa peringatan. Lalu kita akan terjebak di dalamnya.
Kita
Adakah yang nyata selain impian?
Adakah yang abadi selain waktu? Tidak ada teman...
Karena kita hanyalah hembusan angin,
Dan kepada angin kita akan bermuara,
Bukan di kolong jembatan, atau padang rerumputan dengan bunga bertaburan...
Awakening
Yang mereka sebut dengan hujan, adalah nyanyian kerinduan. Deras, getir. Begitu juga dengan senyuman kita berdua, Aliffia.
Langganan:
Komentar (Atom)